Bencana Alam selalu menjadi ancaman bagi masyarakat di seluruh dunia. Mulai dari gempa bumi hingga angin topan, peristiwa-peristiwa ini dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan mereka yang terkena dampaknya. Salah satu contohnya adalah kota Bima di Indonesia, yang dilanda banyak bencana alam dalam beberapa tahun terakhir.
Terletak di Pulau Sumbawa, Bima sudah tidak asing lagi dengan bencana alam. Pada tahun 2018, kota ini dilanda serangkaian gempa bumi, dengan gempa paling dahsyat terjadi pada bulan Agustus. Gempa bumi berkekuatan 6,9 skala Richter ini menyebabkan kerusakan luas dan memakan korban jiwa lebih dari 500 orang. Ribuan rumah hancur, menyebabkan banyak warga kehilangan tempat tinggal dan tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasar.
Dampak gempa baru terasa lama setelah gempa berhenti. Infrastruktur kota rusak parah, sehingga sulit bagi bantuan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan. Rumah sakit kewalahan menangani korban luka, dan banyak yang terpaksa mencari pertolongan medis di klinik darurat. Perekonomian kota juga terpuruk, bisnis-bisnis tutup dan penduduk kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Selain gempa, Bima juga dilanda banjir dan tanah longsor dalam beberapa tahun terakhir. Bencana alam ini semakin memperburuk situasi yang sudah mengerikan di kota ini, menyebabkan lebih banyak kerusakan dan korban jiwa. Masyarakat Bima memiliki ketahanan yang baik, namun mereka sangat membutuhkan bantuan untuk pulih dari peristiwa bencana ini.
Pemerintah Indonesia telah berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat Bima, namun skala kerusakannya sangat besar. Organisasi internasional dan LSM juga telah turun tangan untuk membantu, menyediakan makanan, air, dan tempat tinggal bagi mereka yang membutuhkan. Namun, jalan menuju pemulihan akan panjang dan sulit, dan masyarakat Bima akan membutuhkan semua bantuan yang bisa mereka peroleh untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Dampak buruk bencana alam di Bima menjadi pengingat akan kekuatan alam dan kerentanan komunitas manusia. Hal ini merupakan seruan bagi pemerintah dan organisasi untuk memprioritaskan kesiapsiagaan dan tanggap bencana, serta bekerja sama untuk memitigasi dampak bencana alam terhadap masyarakat yang rentan. Ketika masyarakat Bima berupaya membangun kembali kota dan kehidupan mereka, hal-hal tersebut menjadi bukti kekuatan dan ketahanan jiwa manusia dalam menghadapi kesulitan.
